[XXLOGY] Time Machine: “Hasil SNMPTN”


Setelah sekian lama menunggu, inilah hari pengumuman hasil SNMPTN. Huwaaa!! Deg-degan banget!! Psikologi kah?? Amiin… Aku ber-SMS ria bersama teman-temanku, menunggu hasilnya. Tiba-tiba temanku SMS, “hasilnya udah bisa diliat di internet”. Jantungku berdegup kencang. “Haduuhh mamah gimana nih?? Aahhh deg-degan!! Bukain sama teteh lah!”, ucapku. “Eh ya sama Lia atuh! Sok buka aja bismillah”. “Cepet buka, Lia!”, ibuku menambahkan. Aku mulai mengetikkan alamat situs tersebut. “http://snmptn.ac.id”. Terlihat satu kotak EditText dan satu Button. Kotak itu harus aku isikan nomor peserta tes. Lalu aku ketikan nomorku. Fuuhh… tinggal klik satu Button itu!! Bismillah… KLIK! Loading…

“MAAF NOMOR PESERTA XXXXXXX TIDAK DITERIMA”

Aku terdiam. Jantungku rasanya berhenti. Ibu dan kakakku pun terdiam sejenak. “Jadi? Ga masuk ya, Lia?”, ucap ibuku. Aku masih saja terdiam menatap kata-kata di monitor laptop. “Udah engga apa-apa, nanti ikut SMUP D3. Masih ada kesempatan”, ucap ibuku. Aku masih saja terdiam. Aku menjauhi laptop. Duduk di lantai, menundukkan kepala, air mata tak terasa keluar begitu saja.

Kriing.. kriing.. Tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Ibuku yang menjawab, “Halo? Ooh Riska. Udah diliat, ga masuk Lia mah. Riska juga? Tuuuh Lia, Riska juga ga masuk”, teriak ibuku. Aku masih saja diam di tempat dan tidak menggubris perkataan ibuku. “Iya Riska, Lia nya nangis tuh. Padahal mah da ga apa-apa masih ada kesempatan mau ikut SMUP D3. Iya atuh Ris, neleponnya nanti lagi aja. Lia nya masih nangis terus…”. Iyalah Riska ga apa-apa ga masuk da dia udah masuk tes UPI dan berhasil. Lah aku?. Kakakku yang masih penasaran membuka situs itu lagi dan mencobanya lagi, “Bener mah, ga masuk”. Aku terus terdiam.

Oke, psikologi ga masuk juga engga apa-apa. Tapi yang paling membuatku kesal adalah pilihan ke 2 dan ke 3 tidak juga bisa menampungku. Aku mulai mengingat kembali hari-hariku saat les. Aku tersadar, yaa…, pada saat itu teman-temanku yang lain begitu seriusnya belajar, mengerjakan soal-soal. Aku tidak pernah serius, belajar selalu mengantuk, tak ada yang bisa aku kuasai. Semakin aku mengingat masa itu, semakin aku menangis.

Malam pun tiba. Air mataku mulai berhenti mengalir. Kubuka laptop, kucurahkan semua kekesalanku pada Twitter dan Facebook. Tapi, rasanya jantung ini berhenti lagi ketika di halaman Home Facebook terdapat status temanku: “Alhamdulillah… Psikologi UNPAD!”. Deg! Kutarik scrollbar ke bawah, “Alhamdulillah pilihan pertama masuk!”. Seakan semua bahagia menyambut hasil SNMPTN. Aku klik tombol merah di window Firefox. Aku terdiam. Ku tutup laptop. Akhirnya aku beralih ke Liadphone yang semenjak pengumuman tadi tidak aku pegang. Ada banyak sms yang bertanya, “Noyz, gimana? Masuk jurusan apa?”. Ku jawab satu per satu dengan jujur, “Ga berhasil masuk mana-mana. Insyaallah mungkin ini yang terbaik”. Semua membalas dengan penuh bela sungkawa. Ada yang merasakan hal yang sama, ada juga yang dia mengucap syukur masuk jurusan yang diinginkan.

Yaahh… Selama beberapa hari ini aku belum bisa menghadapi kenyataan. Walaupun kubalas semua SMS teman-teman bahwa semua baik-baik saja, kenyataannya aku tetap bermurung diri di kamar. Sampai hari terakhir ini, ibuku mendatangiku. Ia duduk tenang di sampingku. Aku tak mau melihatnya. Aku berpura-pura fokus melihat soal-soal latihan untuk tes SMUP nanti. Akhirnya ibuku angkat bicara, “Lia, mau sampai kapan Lia murung kaya gini?”. Aku tetap terdiam. “Mamah mah bakal sedih terus kalau Lia ikut sedih!”, tiba-tiba nada ibuku tinggi. Deg! Kepalaku pening, terasa semua darah mengalir cepat, jantungku terus berdegup. “Kalau Lia kaya gini terus, mamah juga bakal murung tiap hari. Lia mau kaya gini terus? Bapa, mamah, teteh pada sedih terus liat Lia kaya gini”, ucap ibuku lirih. Tak terasa air mata menetes begitu saja. Kuberanikan diri melihat ibuku. Dengan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering, aku menjawab, “Jangan mah… Kenapa jadi ikut-ikutan sedih?”. “Setiap hari Lia murung, engga mau ngobrol sama siapa-siapa di rumah. Lia gagal itu hal yang wajar. Semua tau hari kedua tes Lia sakit. Bahkan kita semua bangga Lia masih mau berusaha waktu itu. Jangan kaya gini terus, Lia. Mungkin ini jalan terbaik dari Allah. Kita masih bisa berusaha untuk ikut tes SMUP D3. Mendingan sekarang mah fokus untuk tes nanti”. Aku menggangguk.

Semenjak hari itu, aku tidak pernah menangis atau menyesali hasil SNMPTN lagi. Aku kembali bersemangat mengerjakan soal-soal SMUP bersama kakakku. Semoga kali ini aku benar-benar bisa masuk dan tetap berkuliah seperti yang lain…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s